sumbaronline
headline
AspirasiNikah Tanpa Wali dan Saksi, Syahkah?
Senin, 22 Agustus 2011 - 11:21:28 WIB


Oleh: Zamri Yahya Samsuddin Al-Fauhy *)

BARU-BARU ini salah seorang teman penulis mengaku melakukan nikah bathin dengan seorang lelaki. Dia mengaku, pernikahan itu dilakukan sekitar tahun 2007 lalu dengan seorang lelaki yang dicintainya. Pertanyaan yang menggelayut dibenaknya, apakah nikah bathin itu syah atau tidak?

Hukum Islam tidak mengenal istilah nikah bathin, namun nikah semacam ini sering dilakukan oleh sebagian penganut thariqat atau tasauf. Nikah yang hanya dilakukan berdua saja, tanpa wali dan saksi. Rujukannya pernikahan Nabi Adam As dengan Siti Hawa yang dinikahkan oleh Allah dan disaksikan oleh Malaikat Jibril. Penulis juga sempat melakukan diskusi dengan beberapa orang penganut thareqat soal ini, dan mereka bersikukuh nikah bathin itu syah. 

Perkawinan dalam literatur fiqih berbahasa Arab disebut dengan dua kata yaitu nikah dan zawaj. Kedua kata ini terpakai dalam kehidupan sehari-hari orang Arab dan banyak terdapat dalam al-Quran dan hadist Nabi. Kata na-ka-ha banyak terdapat dalam al Quran dengan arti kawin.

"Dan jika kamu takut tidak akan berlaku adil terhadap anak-anak yatim, maka kawinilah perempuan-perempuan lain yang kamu senangi, dua, tiga atau empat orang, dan jika kamu takut tidak akan berlaku adil, cukup satu orang..." (Qs. An-Nisa ayat 3).

Secara arti kata nikah atau zawaj berarti bergabung" (damu), "hubungan kelamin" (watho'), dan juga berarti "akad" (akad). Dalam arti terminologis dalam kitab-kitab fiqh banyak diartikan; akad atau perjanjian yang mengandung maksud membolehkan hubungan kelamin dengan menggunakan lafaz na-ka-ha atau za-wa-ja.

Ulama Hanafiyah mendefenisikan pernikahan sebagai suatu akad yang berguna untuk memiliki mut'ah dengan sengaja. Artinya seorang lelaki dapat menguasai perempuan dengan seluruh anggota badannya untuk mendapatkan kesenangan atau kepuasan. Ulama Syafi'iyah menyebutkan bahwa pernikahan adalah suatu akad dengan menggunakan lafal nikah atau zauj yang menyimpan arti memiliki wanita. Artinya dengan pernikahan seseorang dapat memiliki atau mendapatkan kesenangan dari pasangannya. 

Ulama Malikyah menyebutkan bahwa pernikahan itu adalah suatu akad yang mengandung arti mut'ah untuk mencapai kepuasan dengan tidak mewajibkan adanya harga. Ulama Hanabilah menegaskan bahwa pernikahan adalah akad dengan menggunakan lafal inkah atau tazwij untuk mendapatkan kepuasan. Artinya seorang laki-laki dapat memperoleh kepuasan dari seorang perempuan dan sebaliknya.

Menurut H. Sulaiman Rasjid dalam bukunya "Fiqh Islam" halaman 382-383, rukun nikah itu ada tiga, yaitu sigat (akad), wali, dan dua orang saksi. Pemahaman ini umum berlaku dikalangan ulama dan masyarakat Indonesia yang menganut Mazhab Syafi'i. "Barang siapa diantara perempuan yang menikah tidak dengan izin walinya, maka pernikahannya batal." (Riwayat empat orang ahli hadist, kecuali Nasai). 

"Janganlah perempuan menikahkan perempuan yang lain, dan jangan pula seorang perempuan menikahkan dirinya sendiri." (HR. Ibnu Majah dan Daruqutni). "Tidak sah nikah kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil." (HR. Ahmad).

Pandangan ini juga dianut dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI). Ini terlihat pada pasal 14 KHI yang menyatakan, rukun nikah terdiri atas lima macam, yaitu adanya: 1. calon suami, 2. calon istri, 3. wali nikah, 4. dua orang saksi, dan 5. ijab dan kabul. Undang-Undang No.1 tahun 1974 tentang perkawinan juga menganut asas ini, walau secara tidak tegas dinyatakan.

Kalangan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa sebagian syarat-syarat pernikahan itu berhubungan dengan sigat, dan sebagian lagi berhubungan dengan akad, serta sebagian berkaitan dengan saksi.

Sigat, yaitu ibarat ijab dan kabul dengan syarat sebagai berikut; 1. Menggunakan lafal tertentu, baik dengan lafal sarih, misalnya; tazwij atau inkahin. Atau dengan lafal kinayah, seperti: lafal yang mengandung arti akad untuk memiliki, misalnya: saya sedekahkan anak saya kepada kamu, saya hibahkan anak saya kepada kamu, dan sebagainya. Lafal yang mengandung arti jual untuk dimiliki, misalnya; milikilah diri saya untukmu, milikilah anak perempuan saya untukmu dengan Rp500,00. 

Dengan lafal ijarah atau wasiat, misalnya; saya ijarahkan diri saya untukmu, saya berwasiat jika saya mati anak perempuan saya untukmu. 2. Ijab dan kabul dengan syarat yang dilakukan dalam salah satu majelis. 3. Sigat didengar oleh orang-orang yang menyaksikannya. 4. Antara ijab dan kabul tidak berbeda maksud dan tujuannya. 5. Lafal sigat tidak disebutkan untuk waktu tertentu. 

Sedangkan akad dapat dilaksanakan dengan syarat apabila kedua calon pengantin berakal, balig dan merdeka. Saksi harus terdiri atas dua orang. Maka tidak syah akad nikah hanya disaksikan satu orang.

Lantas apakah suatu pernikahan itu syah tanpa wali dan saksi? Memang tidak ada satu ayat al-Quran yang secara jelas menghendaki keberadaan wali dalam akad perkawinan. Yang ada hanya ayat-ayat yang dapat dipahami menghendeki adanya wali seperti dalam surah al-Baqarah ayat 221:

"...janganlah kamu mengawinkan anak-anak perempuanmu dengan laki-laki musyrik. Sesungguhnya hamba sahaya mukmin lebih baik dari laki-laki musyrik walaupun dia menarik hatimu."

Tuntutan ini dikemukakan Allah kepada para wali untuk tidak mengawinkan anak perempuannya dengan laki-laki musyrik. Hal itu berarti dalam mengawinkan itu adalah wali. 

Namun disamping itu, terdapat pula ayat al-Quran yang memberikan pengertian perempuan itu kawin sendiri tanpa mesti memakai wali, sebagaimana yang terdapat dalam surah al-Baqarah ayat 232:
"Apabila kamu mentalak istri-istrimu dan habis iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin dengan bakal suami mereka."

Ayat ini dengan tegas mengatakan perempuan itu mengawini bakal suaminya dan wali dilarang mencegahnya. Adanya dua isyarat kemungkinan pemahaman di atas mengakibatkan perbedaan pemahaman ulama dalam menetapkan kemestian adanya wali untuk masing-masing empat kemungkinan perempuan tersebut di atas. 

Sebagian ulama fiqh berpendapat, wali bukanlah merupakan persyaratan syahnya perkawinan, terutama bagi janda. Oleh sebab itu, seorang janda dapat mengawinkan dirinya tanpa wali. Mereka mengemukakan dalil, "Janda-janda lebih berhak atas dirinya ketimbang walinya, sedangkan gadis dimintai izinnya. Izinnya adalah diamnya." (HR. Bukhari).

Kelompok ini membagi wanita dalam hubungannya dengan wali menjadi dua bagian, yaitu janda dan gadis. Bagi janda, wali bukan syarat perkawinan, sedangkan bagi gadis pun, kedudukan wali hanya dimintai izin saja.

Menurut pendapat ini, janda lebih mengetahui banyak hal daripada gadis. Oleh sebab itu, janda tidak memerlukan wali sebab dia telah dewasa, dapat mengurus dirinya sendiri, dan dianggap tidak perlu melibatkan orang lain (wali), termasuk mengawinkan dirinya. Kelompok ini dipelopori oleh Hanafiyah dan Zhahiriyyah. 

Imam Abu Hanifah, Zufar, Asy Sya'bi, dan Az-Zuhri berpendapat bahwa apabila seorang perempuan melakukan akad nikah tanpa wali, sedang calon suaminya sebanding (kufu'), maka pernikahannya boleh. Abu Dawud memisahkan antara gadis dan janda dengan syarat adanya wali pada gadis dan tidak menyaratkannya kepada janda. 

Islam juga meralang wali memaksakan kehendak dalam menentukan pasangan untuk anak gadisnya. Bahkan Rasulullah SAW telah memberikan peringatan dalam masalah ini melalui hadis riwayat Ibnu Abbas: "Seorang gadis datang kepada Nabi SAW. dan mengadu bahwa bapaknya telah mengawinkan dirinya, padahal dia sendiri benci, maka Rasulullah SAW. menyuruhnya memilih." (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Makanya dalam UU No.1/1974 tentang perkawinan dianut asas kerelaan atau kerelaan kedua calon untuk melakukan perkawinan. Asas ini juga terdapat pada pasal 17 ayat (2) KHI, "Bila ternyata perkawinan tidak disetujui oleh salah seorang calon mempelai, maka perkawinan itu tidak dapat dilaksanakan."

Demikian juga soal dua saksi dalam pernikahan, terpecah pula pemahaman ulama fiqh dalam hal ini. Masalah saksi perkawinan dalam al-Quran tidak tertera secara eksplisit, namun saksi untuk masalah lain, seperti dalam masalah pidana dan muamalah atau masalah cerai serta rujuk sangat jelas diutarakan (lihat al-Quran surah At-Thalaq ayat 2). 

Terkait adanya hadis yang mewajibakan wali dan kehadiran saksi, terpecah pendapat ulama fiqh karena mereka menilai hadis tersebut dhaif akibat hadirnya perawi yang tak dikenal. 

"Tidak ada nikah tanpa wali dan saksi yang adil." (HR. Daruqutni). "Pelacur-pelacur itu adalah mereka yang mengawinkan dirinya, tanpa keterangan (saksi)." (HR. At-Tirmidzi). 

Kedua hadis tersebut menunjukkan pentingnya kehadiran saksi dalam perkawinan sekaligus membedakan antara perkawinan dengan pelacuran. Sebagian ulama meragukan kesahihan hadis ini dan sebagian lainnya menilai hadis ini dhaif akibat hadirnya perawi tak dikenal. Oleh karena itu, menurut mereka, hadis tersebut tidak dapat dijadikan hujjah (alasan).

Menurut Imam Malik dan para sahabatnya bahwa saksi dalam akad nikah itu tidak wajib dan cukup diumumkan saja. Mereka beralasan bahwa jual beli yang didalamnya disebut soal mempersaksikan ketika berlangsungnya jual beli sebagaimana tersebut di dalam al-Quran bukan merupakan bagian dari syarat-syarat yang wajib dipenuhi. Allah tidak menyebutkan di dalam al-Quran tentang adanya syarat mempersaksikan dalam suatu pernikahan.

Karena itu, tentu lebih baik jika masalah mempersaksikan tidak termasuk salah satu syaratnya, tetapi cukuplah diberitahukan dan disiarkan saja guna memperjelas keturunan. 

Wallahu'alam bishawab. 

*) Penulis adalah mantan Wakil Sekretaris GP Ansor Kota Padang
Nikah Tanpa Wali dan Saksi, Syahkah? - Sumbaronline.com



Berita terkait :

 
TERKINI
TERPOPULER
 
Facebook
KOTA KABUPATEN   RANTAU >BERITA KHAS TAUTAN
sumbaronline
sumbaronline on facebook sumbaronline on twitter sumbaronline on google plus
- Bukittingi
- Padang
- Pariaman
- Payakumbuh
- Pdg. Panjang
- Sawahlunto
- Kota Solok

- Agam
- Dharmasraya
- Mentawai
- Limapuluh Kota
- Padang Pariaman
- Pasaman
- Pasaman Barat
- Pesisir Selatan
- Sijunjung
- Solok
- Solok Selatan
- Tanah Datar

- Kepri
- Riau
- Bengkulu
- DKI Jakarta
- Palangkaraya
- Ekonomi
- Hukum/Kriminal
- Hiburan
- Pendidikan
- Politik
- Olahraga
- Otomotif
- Iptek
- Aspirasi
- Pariwisata
- Profesi
- Perempuan
- Reliji
- Seni Budaya
- Tokoh
- Kesehatan
- Sumatera Barat
- Kotapariaman.go.id
- Fokusriau.com
- Berita Menarik
- Pemprov
- Legislator
SumbarOnline.com - Gerbang Berita Padang - Sumatera Barat - Rantau