sumbaronline
 
headline
Kab. Dharmasraya8 Penghulu Dilewakan Raja Kerajaan Koto Besar
Senin, 13 Juni 2011 - 10:28:20 WIB


DHARMASRAYA, SO--Sebanyak delapan orang berasal dari masing-masing suku yang ada di Nagari Koto Laweh Kecamatan Koto Besar dinobatkan sebagai penghulu, setelah sebelumnya dilewakan dihadapan kaumnya oleh Raja Kerajaan Koto Besar, Sultan Darman Tuanku Kerajaan, bertempat di depan kantor Wali Nagari Koto Laweh, Sabtu (11/6) lalu.
 
Penobatan ditandai dengan memakaikan saluak dan keris oleh Tuanku Kerajaan kepada para penghulu yang berarti bahwa Daulat Yang Dipertuan Agung Sultan Sri Maharajo Di Rajo memberikan amanah yang selanjutnya dapat di laksanakan dalam kenagarian Koto Laweh
 
Kedelapan orang yang dinobatkan sebagai pewaris pusako tinggi dari masing-masing suku yang ada di kenagarian Koto Laweh tersebut, antara lain, Afriedal yang berasal dari suku Piliang menyandang gelar Dt.Bandaro Sati.
 
Dari suku Melayu, menjabat sebagai penghulu adalah Syafrianis dengan gelar Dt. Mantari Gadang Batuah. Yulfioldi merupakan penghulu dari suku Caniago dengan gelar Dt. Lelo Rajo Batuah. Sedangkan dari Suku Patopang yang menjabat sebagai penghulu adalah Yohanas dengan diberi gelar Dt. Mangkuto Sati.
 
Gelar Dt. Gindo Basa dipangku oleh Maisar dari suku Koto dan gelar Dt. Pamuncak diberikan kepada Harmaini dari suku Tanjung. Sedangkan  Amri berhak mewarisi pusako tinggi suku Sikumbang dengan gelar Dt. Intan Rajo Batuah. Serta yang dinobatkan sebagai andiko bagi kemenakannya di suku Pisang adalah M.Sawirman dengan digelari Dt. Basa Rajo Batuah.  
 
Selain penghulu, dari tiap-tiap suku juga dilewakan orang orang yang akan membantu para penghulu dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, diantaranya Manti, Malin, Dubalang dan Tuo Suku.
 
Bupati H.Adi Gunawan dalam sambutannya menyatakan, bahwa momentum hari ini akan dijadikan cambuk untuk mendorong dan penguatan nilai-nilai adapt serta pembumian adat basandi syara', syara' basandi kitabullah di kabupaten Dharmasraya, sehingga ke depan tidak ada lagi pengelompokan-pengelompokan yang bersifat negatif dalam masyarakat.
 
"Kegiatan ini merupakan suatu penguatan lembaga-lembaga adapt atau lembaga-lembaga kemasyarakatan yang akan mendorong  dan mendukung pemerintahan di tingkat nagari," ujar Bupati H.Adi Gunawan
 
Ditambahkannya, bahwa bagi Pemerintah Daerah, keberadaan kaum adapt atau pelaksana adat istiadat dalam nagari akan memperkuat keberadaan pemerintahan nagari, dan fungsi dari masing-masingnya tidak saling bertentangan, justru sebaliknya yang akan terbangun adalah hidupnya kembali symbol-simbol kehidupan bernagari.
 
Di bagian akhir sambutannya, Bupati H.Adi Gunawan menghimbau kepada para pemangku adat, alim ulama, cadiak pandai, generasi muda, bundo kanduang serta tokoh-tokoh masyarakat nagari untuk dapat menjalankan tugas dan fungsi masing-masing secara optimal sehingga kehidupan nagari yang elok, aman, penuh budaya akan terwujud.
 
Disamping itu, Sultan Darman Tuanku Kerajaan selaku raja kerajaan Koto Besar menyatakan bahwa tidak ada lagi perbedaan suku dan adat istiadat di nagari Koto Laweh, yang ada hanyalah Mamak dan kemenakan.
 
"Mulai hari ini, tidak ada lagi jurang pemisah di nagari Koto Laweh ini, tidak ada lagi kotak-kotak dalam masyarakat, tidak ada lagi warga transmigarasi maupun masyarakat pribumi, yang ada hanyalah Mamak dan Kemenakan," ujar Sultan Darman Tuanku Kerajaan.
 
Ditambahkan beliau bahwa adat adalah alat perekat dan pemersatu masyarakat di nagari, sehingga nagari tersebut akan menjadi tentram, damai dan sejahtera.
 
Pada bahagian lain, M.Sayuti Dt. Rajo Panghulu selaku Ketua LKAAM Sumbar menyatakan, bahwa penghulu merupakan andiko atau raja bagi anak dan kemenakannya. Seorang penghulu harus menjaga dan mengurus anak kemenakannya serta menjaga nama baik sukunya.
 
Menurut beliau ada 9 indikator yang sangat relevan bagi seorang penghulu di masa sekarang ini diantaranya, masihkah penghulu itu menempuh jalan yang lurus, jalan yang menuju kesejahteraan dunia dan akhirat. Maksudnya adalah seorang penghulu haruslah selalu berada di jalan yang benar dan tidak bertentangan dengan ajaran agama.
 
Selanjutnya, masihkah penghulu itu menurutkan kato nan bana, maksudnya adalah bahwa seorang penghulu itu harus selalu berkata yang benar. Indikator lainnya yakni masihkah penghulu itu memelihara harta pusaka yang diwarisinya secara turun temurun. Ini maksudnya bahwa seorang penghulu harus dapat menjaga dan memelihara harta pusaka yang telah diwarisinya secara turun temurun.
 
Berikutnya, katanya lagi, masihkah penghulu itu memelihara anak kemenakan, maksudnya adalah bahwa Penghulu itu harus menjaga anak kemenakan dan harta pusaka yang dimiliki.
 
Selanjutnya, masihkah penghulu itu sebagai kapai tampek batanyo dan kapulang tampek babarito. Maksudnya adalah penghulu itu sebagai tempat meminta pendapat dan bertanya bagi kemenakannya. Indikator berikutnya, masihkah penghulu itu, namuah bahabih hari, malam bahabih dama, dan babadan litak demi kemenakannya. Maksudnya penghulu itu harus rela berkorban demi anak kemenakannya.
 
Masihkah penghulu itu merasakan kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo kamufakat, mufakat barajo ka nan bana, nan bana badiri sendirinyo yang bersumber dari Allah dan Rasulnya. Indikator lainnya adalah masihkah penghulu itu melaksanakan dan mengajarkan ajaran adat basandi syara', syara' basandi kitabullah, syara' mangato adat mamakai. 

Maksudnya penghulu itu harus mengajarkan ilmu adapt dan agaa terhadap anak kemenakannya. Serta masih adakah basuri teladan kain, bacupak teladan batuang. Ini maksudnya penghulu itu haruslah selalu berpakaian yang sopan dan tidak sembrono, serta adil dalam segala perbuatan.
 
"Kesembilan indikator diatas haruslah benar-benar dapat dipahami dan dimengerti oleh para penghulu saat sekarang ini sehingga kesejahteraan anak dan kemenakan dapat terwujud," pungkas ketua LKAAM Sumbar tersebut.
 
Acara ini turut dihadiri oleh ketua DPRD, H.Rudi Hartono beserta Wakil, Sekdakab. H.Busra, SH, ketua LKAAM Kab Dharmasraya, H.Arlies Ade , Asisten, Staf Ahli Bupati, Tokoh masyarakat antara lain, Drs.H.Syafruddin Putra Dt.Sanggono, Zulfikar dt.Panghulu Bosao, Kairul Saleh, Camat dan Wali Nagari. 

Dilaporkan; EP


Berita terkait :
  • Agam, Salah Satu Pilot Project Program i-Masjid
  • Gubernur Tutup Festival Danau Kembar 2011
  • Usai Gubernur Berikan Bonus TdS, Pentas pun Ambruk
  • Tim Ramadhan Agam Kunjungi 32 Masjid di 16 Kecamatan
  • Sapta Nirwandar: Pemprov Siap, TdS 2012 jadi 12 Etape

  •  
    TERKINI
    TERPOPULER
     
    Facebook
    KOTA KABUPATEN   RANTAU BERITA KHAS TAUTAN
    sumbaronline
    facebook twitter google plus pinterest
    - Bukittingi
    - Padang
    - Pariaman
    - Payakumbuh
    - Pdg. Panjang
    - Sawahlunto
    - Kota Solok

    - Agam
    - Dharmasraya
    - Mentawai
    - Limapuluh Kota
    - Padang Pariaman
    - Pasaman
    - Pasaman Barat
    - Pesisir Selatan
    - Sijunjung
    - Solok
    - Solok Selatan
    - Tanah Datar

    - Kepri
    - Riau
    - Bengkulu
    - DKI Jakarta
    - Palangkaraya
    - Ekonomi
    - Hukum/Kriminal
    - Hiburan
    - Pendidikan
    - Politik
    - Olahraga
    - Otomotif
    - Iptek
    - Aspirasi
    - Pariwisata
    - Profesi
    - Perempuan
    - Reliji
    - Seni Budaya
    - Tokoh
    - Kesehatan
    - Sumatera Barat
    - Kotapariaman.go.id
    - Fokusriau.com
    - Berita Menarik
    - Pemprov
    - Legislator
    SumbarOnline.com - Gerbang Berita Padang - Sumatera Barat - Rantau