sumbaronline
headline
AspirasiBeruk dan Kelapa di Pariaman
Kamis, 21 Februari 2013 - 14:56:48 WIB


Oleh : Zainal Abadi *)

BERUK dalam ilmu Paleonthropology merupakan nenek moyang manusia yang masih primitif, berbulu lebat. Ketika mendengar kata beruk biasa yang tergambar dalam benaknya adalah sesuatu yang negatif.

Pada masyarakat minang beruk menjadi semacam kiasan untuk orang yang mirip perangainya dengan beruk. Perangai beruk yang dikiaskan untuk manusia adalah perangai yang tamak dan suka manjijia (mengejek). Al Quran juga menggambarkan orang yang Sombong itu menjadi Beruk (Q.S Al Araf : 166), kemudian orang yang melanggar perintah sebagai beruk (al Quran: 65). Jadi konotasi beruk adalah negatif ditengah masyarakat.
Hal yang cukup menggelitik, dalam bagarah (bercanda).

Orang Pariaman sering disindir karena beruknya, hal ini bukan karena perangai orang Pariaman yang mirip dengan binatang yang paling mirip dengan manusia ini. Tak lain adalah, di Pariaman orang memanjat kelapa dengan menggunakan jasa beruk dari dulu hingga sekarang. Ke khas an beruk Pariaman ini mengantarkan paradigma orang ketika mendengar Pariaman pasti terlintas gambaran beruk yang pandai memanjat kelapa.

Jika orang Pariaman disindir dengan beruk, justru orang Pariaman balik meninggikan diri dengan lebih maju menggunakan beruk dibanding daerah lain yang memanjat kelapa masih menggunakan tenaga manusia.
Kemampuan orang Pariaman mendidik beruk sudah sejak lama. Di halaman facebook terdapat foto zaman dulu ketika ada “sekolah beruk” di Pariaman.

Foto ini dalam Blog Ajo Suryadi alumni SMA 2 Pariaman yang sekarang mengajar di Leiden University, Belanda. Hingga sekarang masih ada di Pariaman orang yang mendidik beruk untuk menjadi pemenjat kelapa yang handal.

Kelapa yang banyak adalah warisan keluarga orang Pariaman yang masih terjaga hingga sekarang, walaupun sudah banyak pula yang ditebang karena sudah tidak produktif lagi. Tapi kebunnya tetap di isi dengan kelapa, bukan ditukar dengan kebun sawit yang konon cukup menggoda.

Saat panen kelapa yang terjadi tiga bulan sekali itu, Pemilik kebun akan mencari pawang beruk untuk dapat menurunkan kelapanya yang tingginya rata-rata diatas 10 meter itu. Pemilik kebun akan membagi upah bagi pawang beruk sesuai dengan jumlah kelapa yang diturunkan. Dan pawang beruk juga memberikan makanan yang enak buat beruk nya seperti telur dan madu jika hasil melimpah.

Hingga hari ini kelapa masih menjadi sentra produksi pertanian ungulan di Pariaman. Tanaman lain sejenis Kelapa sangat menggiurkan sebenarnya, yaitu sawit. Dengan Ekspansi tanaman sawit yang cukup kuat saat ini bukan tidak mungkin pemilik kebun kelapa akan mengganti kebunnya dengan Sawit. Seiring dengan semakin rendahnya harga kelapa.

Andai saja masyarakat Pariaman ramai-ramai mengganti kebun kelapanya dengan kebun sawit. Jika ini terjadi, kakhawatiran tidak hanya muncul berakibat semakin panasnya Pariaman. Juga, dengan kultur sawit di Indonesia ini lebih dikuasai oleh pemilik modal.

Tentunya juga, menjadikan beruk dan kelapa yang menjadi ciri khas itu, hanya tinggal nama di masyarakat Pariaman.

Toh juga, dengan harga kelapa yang semakin merosot saat ini, pemilik kebun kelapa dan beruk sama-sama berjuang untuk hidup. Karena hasil yang didapat tidak mencukupi.

Kelapa dan beruk di Pariaman memiliki hubungan yang kuat, jika harga kelapa lesu, beruk pun tak akan mendapatkan makanan bergizinya yaitu madu dan telur. Tentu sebaliknya jika harga kelapa meningkat masyarakat Pariaman pun akan sejahtera.

Pada dasarnya kelapa punya manfaat besar. Air kelapa merupakan minuman segar, Sabutnya bermanfaat untuk membuat tali dan permadani, tempurungnya bisa menjadi arang untuk pembakaran yang ramah lingkungan, bahkan lidi bisa dibuat sapu dan daunnya dapat bermanfaat untuk membuat ketupat. Minyak kelapa pun menjadi sangat berharga hari ini.

Kelapa menjadi tanaman yang berkah buat masyarakat Pariaman, yang sudah sejak lama ada. Bahkan penulis pernah bertemu dengan seorang nenek di Sungai Geringging yang menghidupi keluarganya dari pelepah kelapa yang dia kumpulkan setiap hari yang diraut untuk menjadi sapu lidi. Dan pelepah itu ia ambil bukan dari kebun kelapanya, namun dari kebun kelapa orang lain.

Potensi kelapa yang demikian besar memang belum di iringi dengan kemajuan teknologi untuk kelapa di Pariaman. Disaat orang lain sudah bisa menjual kerajinan dari tempurung kelapa, disaat nata de coco sudah menjadi produk ekspor.

Pemilik kebun di Pariaman masih menjual kelapa dalam bentuk buah dan kopra yang harganya tidak terkontrol. Dan setiap panen kelapa yang dijual tak lagi memenuhi kebutuhan harian saat ini.

Bukan tidak mungkin sebenarnya membangkitkan kembali kelesuan kelapa dan beruk di Pariaman. Dengan manfaat yang begitu besar. Asalkan ada dorongan dan bimbingan dari pemegang kebijakan.

Tentu yang menjadi syarat utama adalah semua potensi kelapa termanfaatkan dengan baik, mulai dari air, tempurung, hingga minyaknya.
Tinggal lagi pemerintah memberikan skill dan teknologi yang dapat diperoleh oleh masyarakat dengan biaya murah.

Selain itu pemerintah dan pemilik kebun mesti mencari solusi aspek hilir. Ketiadaan Aspek hilir seperti pengolahan kelapa menjadi barang jadi membuat harga menjadi rendah dari mestinya.

Dengan adanya sektor hilir kelapa di Pariaman, barangkali pemerintah-pun pasti akan siap dengan menentukan harga terendah kelapa ditingkat petani/pemilik kebun. Tentu ini semua butuh keseriusan.

Fakta lain di Pariaman adalah kuatnya orang Pariaman dengan nukilan sejarah. Misalkan dalam penamaan kampung atau jalan. Di Pariaman ada Kampung Jawi-jawi diambil dari nama sejenis rerumputan, konon rerumputan itu tak lagi ada di kampung Jawi-jawi.

Demikian juga dengan kampung Jawa yang tak ada lagi orang jawa. Apalagi nama kampung cina yang hingga sekarang tak satupun orang cina masuk di Pariaman.

Hal ini berbeda dengan Beruk dan Kelapa. Walaupun kedua makhluk ini menjadi cirikhas Pariaman, tak satupun di Pariaman ada nama kampung atau Jalan dengan sebutan kelapa apalagi beruk.

Padahal ke unikan beruk dan kelapa ini dapat menjadikan ketertarikan tersendiri bagi orang luar datang ke Pariaman. Misalkan adanya perlombaan beruk memanjat kelapa, atau mungkin karnaval yang menjadikan beruk pemanjat kelapa sebagai sorotan utama.

Jika ini terjadi tentu nilai beruk dan kelapa di Pariaman menjadi lain dimata orang lain.


*) Penulis adalah Pengurus Nangkodo Baha Institute
Beruk dan Kelapa di Pariaman - Sumbaronline.com



Berita terkait :

 
TERKINI
TERPOPULER
 
Facebook
KOTA KABUPATEN   RANTAU >BERITA KHAS TAUTAN
sumbaronline
sumbaronline on facebook sumbaronline on twitter sumbaronline on google plus
- Bukittingi
- Padang
- Pariaman
- Payakumbuh
- Pdg. Panjang
- Sawahlunto
- Kota Solok

- Agam
- Dharmasraya
- Mentawai
- Limapuluh Kota
- Padang Pariaman
- Pasaman
- Pasaman Barat
- Pesisir Selatan
- Sijunjung
- Solok
- Solok Selatan
- Tanah Datar

- Kepri
- Riau
- Bengkulu
- DKI Jakarta
- Palangkaraya
- Ekonomi
- Hukum/Kriminal
- Hiburan
- Pendidikan
- Politik
- Olahraga
- Otomotif
- Iptek
- Aspirasi
- Pariwisata
- Profesi
- Perempuan
- Reliji
- Seni Budaya
- Tokoh
- Kesehatan
- Sumatera Barat
- Kotapariaman.go.id
- Fokusriau.com
- Berita Menarik
- Pemprov
- Legislator
SumbarOnline.com - Gerbang Berita Padang - Sumatera Barat - Rantau