Pesona Ranah Minang Jangan Dicemari Tingkah Kampungan
Selasa, 28 Agustus 2012 - 12:39:50 WIB
Berita terkait :
Selasa, 28 Agustus 2012 - 12:39:50 WIB

Oleh : Erya Laudin gelar Pakieh Sampono *)
SEBAGAI seorang putera Minang yang lahir dan dibesarkan di Ranah Minang, tepatnya di Solok, Sumatera Barat, saya merasa bangga memiliki alam yang elok dan bernuansa eksotis.
Cobalah lihat, mulai dari gerbang masuk Bandara Internasional Minang Kabau (BIM)1, taraf internasional BIM tidak perlu diragukan lagi dengan segala sarana yang tersedia.
Bergeser ke Kota Padang dengan pantainya yang indah2, tempat bermain yang nyaman buat pencinta pantai, ombak berdeburan dipantai dengan pemandangan matahari tenggelam “sunset” terbaik.
Bergerak ke arah timur menuju kota Solok, kota kelahiran saya yang sangat terkenal dengan “Bareh Solok” beras dengan kualitas tinggi, bertipe beras “Perak” dengan kadar gula rendah, dan tahan disimpan (tidak cepat basi) serta membari rasa kenyang lebih lama.
Di Solok ini (kabupaten/Kota) terdapat bebarapa daerah wisata yang tidak ada duanya di muka bumi ini, sebagai contoh, ada dua danau “Danau Diateh jo Danau Dibawah”3, terkenal dengan “Danau Kamba” (Danau Kembar) yang letaknya berdekatan (jarak terdekatnya kurang dari 1 KM) namun permukaan airnya sangat jauh berbeda ketinggiannya, udara yang dingin, dan angin yang cenderung selalu berhembus, membuat kedua danau ini lebih sering tertutup kabut, namun jika beruntung (pagi hari) bisa melihat danau dengan keindahan yang tiada tara.
Di danau diatas saat ini sudah disediakan, vila/cottage yang dapat disewa, menginap dipinggir danau yang berudara dingin adalah suatu hal yang mengasyikkan.
Kedua danau ini bisa dipandang sekaligus dari satu tempat (Simpang Tanjuang nan Ampek), sebuah panorama yang tidak mungkin ditemukan di bagian daerah lainnya
Selain itu hamparan kebun teh membentang luas sepanjang jalan dari arah Lubuk Silasieh menuju Danau Kembar, merupakan pesona wisata tersendiri bagi pengunjung, banyak tempat dijadikan tempat istirahat, tempat membuat kenangan melalui foto atau video dengan latar belakang perkebunan bak permadani hijau nan luas
Masih banyak lagi PESONA RANAH MINANG yang bisa dinikmati sebagai sarana pariwisata, baik domestik apalagi mancanegara seperti pantai, budaya, sejarah, kerajinan, kesenian dan lain sebagainya.
Salah satu faktor yang dapat mengangkat pariwisata Minang di Indonesia maupun di Mancanegara adalah dengan promosi dan pelayanan wisata. Promosi dapat dilakukan oleh masyarakat Minang yang bergerak dibidang pariwisata dan dapat pula oleh penikmat/pengunjung yang pernah datang ke Minang (Sumatera Barat) melalui cerita dari mulut ke mulut.
Promosi yang bersifat cerita dari mulut ke mulut ini tingkat kepercayaannya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan promosi yang dilakukan oleh insan Pariwisata sendiri. Orang lain akan menilai berdasarkan testimoni yang dibuat seseorang yang telah berkunjung ke suatu tempat, apakah kesan baik atau kesan jelek.
Sebagai seorang putera Minang yang senang berwisata dan telah menikmati lokasi-lokasi wisata di beberapa daerah lain di Indonesia seperti Toba, Bali, Lombok, Yokyakarta, Solo dan lain-lain, maka terlihatlah perbedaan yang sangat mencolok dalam kesan jika saya mengunjungi tempat-tempat wisata di kampung halaman tercinta ini.
Kita mulai dari Bandara Internasional Minang Kabau (BIM)1, semestinya dengan potensi wisata yang cukup besar harus tersedia famplet/booklet/poster/spanduk/baliho/informasi tentang Minangkabau yang disediakan di ruang kedatangan BIM.
Informasi tersebut mestinya dapat diakses atau diperoleh secara mudah bahkan gratis, juga ada perwakilan biro perjalanan wisata dengan penawaran paket wisatanya dan petugasnya yang penuh senyum ramah dan menguasai pariwisata Sumatera Barat, mestinya juga tersedia informasi transportasi yang dapat digunakan dengan spesifikasi kendaraan, tarif dan paramudinya
Yang saya temukan di BIM (saya pulang tanggal 19 Agustus 2012) begitu keluar pintu kedatangan jam 10.15 Wib, beberapa orang menghampiri dan menawarkan moda transportasi, mulai Taksi Resmi, Taksi Argo dan entah Taksi apalagi, Minibus (Kijang, Avanza, dll) dengan gaya intimidasi dan sedikit pelecehan dengan menarik-narik koper atau tas, bahkan berusaha meraih tangan istri saya.
Walau di Bandara Soekarno Hatta Jakarta hal seperti itu juga ditemukan, namun jika dikatakan tidak dan terima kasih mereka akan berlalu, tetapi di BIM tidak, mereka tetap mengikuti kita sampai kita mau melayani tawaran mereka.
Walau counter Taksi resmi saya temukan tetapi tidak ada petugas pelayan di sana, kursi di situ diduduki oleh para calo/supir taksi/supir minibus yang tadi telah manyambangi saya.
Ketika saya tanyakan Taksi Resmi mereka katakan semua taksi di sini resmi, ini tarifnya sambil menepuk meja Counter. Pada daftar tersebut tertera di sana tarif ke Solok Rp.225.000, dengan alasan Lebaran ada Tuslagh, mereka meminta Rp.400.000.
Sungguh suatu yang sangat keterlaluan, saya pulang kampung tidak 10-20 tahun sekali tetapi 2-3 kali setahun, hal ini hanya saya temui di BIM. Ketika hal ini saya coba adukan ke Posko Lebaran yang ada di BIM, disana ada Polisi, Tentara, Petugas Kemenhub, saya temui oknum Polisi berpangkat Brigadir Satu berinisial “NAVIS” untuk mengadukan hal tersebut, dengan bergaya pemuda Minang yang angkuh dia katakan “Bayie sajo lah Rp.400.000 tu Pak, macet Ladang Padi, paliang capek apak sampai di Solok pukueh 4”.
Dalam hati saya mengatakan petugas polisi macam apa ini (Heedew), bukannya memberi informasi yang lebih baik malah seperti sebuah persekongkolan atau memang sudah tidak ada rasa Minang bagi mereka.
Jika saya bandingkan dengan dibeberapa daerah seperti Bali, Yogya dan Solo dimana saya juga sering saya berkunjung ke sana, saya temukan supir taksi yang orang Minang juga, tetapi mereka patuh dengan ketertiban dan keteraturan yang ada di sana? Kenapa di negeri sendiri seperti ini ya?
Akhirnya saya ngeteng dari BIM sampai ke Muaro Palam, poolnya PO Jasa Malindo yang membawa saya ke Solok. Perjalanan Padang-Solok hanya 90 menit, tidak ada kemacetan seperti yang diintimidasikan oknum Polisi di BIM tadi.
Kemuadian untuk Pantai Padang2 (Tapi Lawik), kesan saya sudah cukup representatif sebagai tempat wisata, yang perlu disempurnakan adalah penataan pedagang sepanjang pantai agar ada ruang untuk pengunjung keluar masuk pantai tanpa harus melewati warung mereka, dan juga papan informasi, serta menara pengawas pantai, jaga kebersihan pantai, maka pengunjung akan merasa nyaman. Disisi lain sudah tersedia restoran yang menjadi pilihan tempat menikati pantai sambil makan seafood
Beranjak ke “Danau Diateh jo Danau Dibawah”3 sebagaimana saya uraikan di atas, Danau Kembar ini tiada duanya di manapun, sudah dikembangkan dengan tersedianya Vila/Cattage, tempat bermain bagi anak-anak, dan tepian danau yang dapat dinikmati dingin airnya, dari danau ini juga dihasilkan ikan “Bilih” joga Pensi atau Rinuek” ikan/kerang endemik setempat, disekitar danau terdapat perkebunan “Marqisa” yang konon katanya memiliki cita rasa tersendiri, selain kebun wortel, kentang, kol dan sayuran lainnya yang jika dikelola dapat dijadikan wisata Argo disekitar Danau.
Pengunjung dapat memilih paket memetik Marqisa, memanen kentang dan lainnya, dan bahkan bisa menginap di rumah penduduk sebagai suatu paket yang sangat mengesankan tentunya
Setiap mengunjungi Danau Kembar ini dalam beberapa kali saya datangi, vila/Cottage tidak terwat dengan baik, jalan lingkungan yang dari dulu masih batu kerikil, rumah/penginapan yang kesannya bangunan menyeramkan, sarana bermain rusak, tidak ada tempat parkir pengunjung, sehingga kendaraan diparkir sepanjang jalan lingkungan.
Jika ada dua kendaraan berlawanan arah jadi tidak bisa lewat, belum ada akses ke Danau yang nyaman. Apabila ada pengunjung yang ingin merasakan dinginnya air danau Diatas ini, mungkin sebaiknya dibuatkan dermaga/sarananya.
Retribusi masuk dengan tiket per orang Rp4.000 dan Rp.5000 untuk parkir kendaraan, wajar guna pemeliharaan dan kenyamanan.
Beralih ke panorama danau Dibawah. Di panorama yang tadinya merupakan tempat memandang kedua Danau sekaligus, dipenuhi oleh warung makan yang pembangunannya tidak beraturan, sehingga jadi manghalangi view danau terutama danau Dibawah.
Lahan parkir yang sempit dan petugas perkir liar yang memalak kendaraan yang parkir di sana, walau untuk masuk ke Panorma dikenakan Rp10.000 per orang tidak menjamin di dalam lokasi parkir bebas dari tarikan oknum-oknum liar (anak-anak separo baya).
Mereka dengan merengek-rengek sambil mengedor-gedor kaca spion atau kaca mobil meminta jasa parkir Rp 5.000 (fantastis), penjaja makanan juga menjual makanannya dengan harga mencekik leher (nggak ketelen) kata istri saya, setelah menanyakan harga kue @Rp7.500.
Keluarga saya (bukan berasal dari Minang) berkomentar, sangat indah Danau Kembar ini, jika saja masyarakatnya jeli, jalan masuk Panorama ditata, parkir dibuat khusus, tempat jajan dibuat sedemikian rupa tanpa mengganggu view keindahan danau dan disediakan jalur wisata dari masuk dan keluar dengan jalur berbeda, dimana jalur keluar menuju toko-toko suvenir, tentu akan menjadi pendapatan sendiri bagi masyarakat.
Juga bisa dimanfaatkan rumah penduduk disewakan dan paket menanam atau memetik sayuran, buah markisa dan lainnya, pengunjung merasakan menginap di udara dingin danau kembar, akan sangat mengundang pengunjung.
Jika kita ingin mengoptimalkan potensi yang kita miliki, maka memang perlu ada pembenahan, baik dari segi sarana, prasarana, sistem dan SDM.
Sarana BIM sudah cukup baik, prasarana, sistem dan SDM yang perlu pembenahan, sulit memang merubah karakter, tetapi jika sudah ada sistem yang benar, semua bisa dijalankan, buktinya orang Minang di daerah lain bisa PATUH pada aturan daerah tersebut.
Pengelolaan pariwisata memang tidak semidah diucapkan, tetapi jika pengunjung telah mendapatkan kesan yang baik mereka akan menyebarluaskan kepada kerabat, teman, sejawat baik di tempat tinggal atau di tempat kerja, bahkan jika testimoni suatu daerah ditulis di web, maka bukan tidak mungkin dibaca oleh wisatawan nasional dan mancanegara.
U*ntuk mendapatkan testimoni yang baik dan positif tentunya kita (masyarakat, pemerintah, pengusaha swasta) mesti memiliki pola pikir yang sama, membarikan pelayanan terbaik kepada pengunjung Ranah Minang, apakah itu pernatau atau pengunjung dari daerah lain.
Maukah Masyarakat Minang melakukan ini? Saya tunggu perkembangannya.
*) Penulis adalah Perantau Minang di Jakarta
| Tweet |
- Pengangguran dan Pengusaha Kecil Sawahlunto Beroleh Pelatihan
- Tim Medis DMC Periksa Kesehatan Ratusan Pengungsi Merapi
- Bagindo Fahmi : Hukum di RI untuk Sejahterakan Rakyat
- LKAAM Tandatangani MoU dengan PWI dan Polres Dharmasraya
- Jalan Talago Lubuk Basung Berlobang, Rawan Kecelakaan







