Permainan Bisnis Sekolah Sesakkan Dada Orangtua Siswa
Minggu, 08 Juli 2012 - 16:56:49 WIB
Berita terkait :
Minggu, 08 Juli 2012 - 16:56:49 WIB

DHARMASRAYA, SO--Fenomena tentang permainan bisnis di dunia Pendidikan mulai dari Taman Kanak kanak (TK) hingga SMU diduga sebagai ladang bisnis setiap tahun ajaran baru sekolah.
Bisnis sekolah ini meliputi pendaftaran dan beli baju seragam sekolah. Kondisi ini tentu membuat para wali murid atau orang tua jadi gelisah serta mengeluh, disebabkan karena biaya sekolah untuk pendaftaran anak sekolah sekarang ini cukup tinggi, sehingga terasa memberatkan sekali kepada orang tua atau wali murid yang akan mendaftarkan anaknya sekolah.
Hal ini terjadi di kabupaten Dharmasraya. Salah seorang orang tua murid yang tidak mau menyebutkan identitasnya di Koto Baru Minggu (8/7) ketika di temui www.sumbaronline.com mengatakan, berapa hari lalu saya mendaftarkan anak saya ke sekolah MTsN Koto Baru.
"Setelah melakukan pendaftaran ulang di sekolah tersebut, setelah melakukan pendaftaran ulang kami diberikan rincian pendafaran ulang dengan biaya total Rp 376.000 dan ini belum termasuk biaya pelengkapan pakaian seragam sekolah untuk pelajar laki laki Rp 38.2000 sedangkan untuk pelajar perempuan Rp 460.000," ucapnya.
Kalau di total hingga 700 ribu hingga 800 ribu lebih. Kondisi ini, sebutnya, terasa sangat memberatkan sekali bagi kami orang tua yang ingin mengikuti pendidikan di sekolah tersebut. Dalam perincian pendaftaran ulang total Rp 376.000 tersebut di rincikan di daftar tersebut, ada uang titipan Komite sekolah senilai Rp 200.000 dan uang OSIS Rp 20.000 selama 6 bulan dengan jumlah Rp 120.000 dan ada uang lainnya dengan jumlah totalnya Rp Rp 376.000 yang wajib dibayarkan tanpa cicilan atau diangsur, dan wajib dibayarkan padahal anak kami saay mau masuk sekolah tersebut sudah dikenakan biaya yang di luar dugaan kami.
Ini yang membuat para orang tua siswa keberatan sekali, kalau tidak dibayarkan anak kami tidak dapat sekolah. Belum lagi nantinya uang yang lain lainya kalau anak kami telah masuk sekolah. Sepertinya biaya tersebut dipaksakan sekali. Dan nantinya kalau kami protes, pihak sekolah akan menekan anak atau dikucilkan oleh pihak sekolah, inilah yang kami takutkan.
"Akibatnya anak kami tidak dapat sekolah. Apa lagi pada bulan ini kebutuhan hidup sangat tinggi sekali, apalagi menjelang tibanya bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri akan datang," keluhnya.
Sementara itu selah seorang orang tua Agusalim (45), di pasar Pulau Punjung saat di temui www.sumbaronline.com ketika membelikan buku tulis dan peralatan sekolah untuk anaknya mengatakan, tahun ini biaya sekolah yang diadakan oleh pihak sekolah dengan mengatas namakan Komite yang dulunya bernama uang BP3 sekolah, sangat tinggi, belum lagi beli buku tulis dan peralatan untuk sekolah yang di luar kewajiban sekolah.
Sangat berat sekali setiap tahunnya, anak saya yang mau masuk di SMU saja sudah mencapai 1 juta lebih padahal tahun lalu kurang 1 juta. "Katanya uang komite alias uang bangku dan uang lainya. Sepertinya ini merupakan ladang bisnis sekolah setiap tahunnya," ujarnya.
Saya berharap kepada pemerintah dan pihak sekolah janganlah berati beban rakyat kecil tentang biaya pendidikan. "Tolonglah pertimbangkan uang pendaftaran dan sejenisnya agar kami tak kesulitan memperoleh pendidikan ini," pungkasnya.
Dilaporkan : EP
| Tweet |
- Ulasan Sepakbola : Jangan Jumawa Semen Padang...!
- Wagub : Tak Ada Masalah Kepergian Gubernur Keluar Negeri
- Fadel Muhammad Kirim 9 Pakar Gempa dan Tsunami Jepang ke Mentawai
- Dikerjai Wasit, PSP Ditekuk PSBL, Protes ke Komdis PSSI Dilayangkan
- RCTI Peduli Serahkan Bantuan Tsunami Mentawai







